Menu

RABIES ( ANJING GILA)

  • Rabu, 05 September 2007
  • 3728x Dilihat
RABIES ( ANJING GILA)
WASPADAI DAN PERTAHANKAN BALI BEBAS RABIES Rabies adalah penyakit menular akut pada susunan syaraf pusat yag disebabkan oleh virus rabies (Rabdovirus) yang menyerang hewan berdarah panas dan manusia Hewan yang menderita penyakit ini,pada air liurnya ditemukan virus dengan konsentrasi tinggi, Oleh sebab itu penularan umumnya melalui gigitan. Hewan yang terinfeksi penyakit ini ditandai dengan gejalah takut terhadap sinar, mudah kaget dan curiga sehingga menyerang benda yang bergerak disekelilingnya, hypersalivasi, paralisa dan akhirnya mati. Sedangkan pada manusia dapat ditunjukkan dengan gejalah yang hampir mirip dengan anjing penderita rabies , terutama menunjukan gereakan hyperaktif yang tidak dapat dikonrol , serta perduli terhadap lingkungan disekelilingnya, peradangan otak , paralisa dan akhirnya meninggal. Mengingat penyakit Rabies sangat ganas dan berbahaya khususnya terhadap kesehatan dan ketentraman hidup masyarakat maka usaha pengendalian, pencegahan dan pemberantasan penyakit Rabies perlu dilaksanakan secara intensif,guna mempertahankan Bali bebas dari penyakit rabies. CARA PENULARANNYA Penyakit Rabies yang juga disebut Penyakit Anjing Gila dapat ditularkan oleh binatang berdarah panas seperti Anjing, Kucing, Kera, Kelalawar dan sebangsanya, melalui air liur yang mengandung virus rabies lewat luka gigitan. TANDA – TANDA PENYAKIT RABIES Tanda-tanda penyakit yang dapat dilihat adalah manifestasi peradangan otak ( encephalitis ) gejala baru terlihat antara 10 hari sampai dengan 8 minggu setelah terinfeksi. Pada awal infeksi, hewan menunjukan gejala seperti mencari tempat yang gelap dan dingin serta menyendiri, takut terhadap sinar. Pada stadium exitasi, hewan menunjukan gejala menyerang dan menggigit apa saja yang bergerak disekitarnya dan memakan benda – benda aneh seperti kayu, besi dan yang lainnya, mengeluarkan air liur yang berlebihan ( hypersalivasi ) dan suaranya terdengar serak ( parau ), bola mata terlihat keruh dan selalu terbuka, pada stadium lanjut, hewan nampak sempoyongan, semua reflek saraf hilang ( kejang ) dan diakhiri dengan kematian. Sedangkan manusia yang terserang penyakit ini dapat menunjukan tanda-tanda sebagai berikut: tidak mau makan dan minum, takut terhadap air dan sinar , peka terhadap suara-suara disekitarnya dan selalu gelisah yang diakhiri dengan kejang-kejang,koma lalu meninggal. ANCAMAN BALI DARI PENYAKIT RABIES Ssampai saat ini beberapa daerah yang masih dinyatakan bebas Rabies di Indonesia adalh Pulau madura sekitarnya Bali,NTB,NTT kecuali Flores , maluku ,Papua, Jawa Timur,Jawa Tengah dan DIY. Meskipun Pulau bali masih dinyatakan Bebas Penyakit Rabies , namun penyakit ini tetap harus diwaspadai mengingat secara geografis sangat memungkinkan dan berpotensi sangat besar terhadap penularan Rabies dari daerah Jawa dan Bali relative sulit dipisahkan, merupakan ancaman terhadap penularan rabies di Pulau Bali. Disamping itu juga secara budaya masyarakat di Bali pada umumnya setiap rumah tangga memelihara anjing, serta banyak ditemukan anjing-anjing yang tidak bertuan (liar) disepanjang jalan dan sangat potensial sebagai sumber penularan penyakit. Mengingat bahaya dan kerugian yang sangat besar diberbagai sektor yang ditimbulkan oleh penyakit Rabies, maka sewajarnya kita tetap berusaha dan selalu waspada dalam mempertahankan Pulau Bali ini bebas dari penyakit Rabies, dimana Pulau Bali sudah terkenal sebagai daerah tujuan wisata yang selama ini terjaga keamanan dan kenyamanannya. PENANGANAN TERHADAP KASUS GIGITAN Apabila terjadi kasus gigitan ajing pada orang,dianjurkan supaya orang yang digigit segera dibawah kedokter atau Puskesmas terdekat untuk diobati, sedangkan anjing yang menggigit dibawah ke Dinas Peternakan setempat atau Pos keswan terdekat untuk diobservasi. (NONY)