Menu

Pendampingan Kegiatan Pemantauan Hama Penyakit Ikan pada Kelompok UPR dan Pokdakan oleh Penyuluh Perikanan Kota Denpasar Bersama Balai Karantina Ikan Kelas I Denpasar

  • Senin, 29 Februari 2016
  • 1568x Dilihat

Senin, 29 Pebruari 2016 Tim Monitoring Hama Penyakit Ikan Balai Karantina Ikan Kelas I Denpasar bersama Kasi Budidaya dan Penyuluh Perikanan Bantu Budidaya Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kota Denpasar mengadakan monitoring hama penyakit ikan di 2 kecamatan yang ada di Kota Denpasar yakni Kecamatan Denpasar Utara dan Kecamatan Denpasar Barat dengan 4 lokasi pengambilan sampel. Pengambilan sampel di Kecamatan Denpasar Utara dilakukan pada 3 lokasi yakni 1 lokasi pada kelompok Pokdakan Mina Mandiri, Kelurahan Peguyangan dan 2 lokasi pada anggota kelompok UPR Mina Dalem Sari, Kelurahan Peguyangan Kaja sedangkan pengambilan sampel pada Kecamatan Denpasar Barat, dilakukan pengambilan sampel pada 1 lokasi yakni pokdakan Putra Sading Sari, Desa Pemecutan Kelod, Kecamatan Denpasar Barat. Monitoring dilakukan dengan melakukan pengecekan suhu air kolam, pengecekan konsentrasi ion hydrogen (pH), pengambilan sampel air kolam dan ikan sebanyak 18 ekor pada masing-masing lokasi monitoring. Pengambilan sampel uji sebanyak 18 ekor ikan sudah ditentukan dari hasil penghitungan sampel uji yang harus diambil oleh BKIPM untuk menunjukkan tingkat keakuratan yang tinggi pada pengujian bakteri, virus, dan parasit.

Dari hasil pemantauan dan pengambilan sampel yang dilakukan pada 4 lokasi ditemukan sampel yang menunjukkan gejala klinis terserang penyakit pada 2 lokasi yakni satu lokasi kolam milik anggota kelompok UPR Mina Dalem Sari, Denpasar Utara dan 1 lokasi pada kolam milik Pokdakan Putra Sading Sari, Denpasar Barat. Pada UPR Mina Dalem Sari dimana dari hasil pemantauan ditemukan kondisi pembudidaya yang sedang membersihkan kolamnya akibat sebagian besar benih ikan lele mengalami kematian. Setelah melakukan beberapa diskusi dan tanya jawab dengan pembudidaya dapat diambil hipotesis sementara yakni kematian ikan disebabkan oleh kualitas air yang digunakan tercemar oleh zat pestisida, hal ini diakibatkan oleh lokasi kolam yang berdekatan dengan area persawahan namun hal tersebut merupakan hipotesis sementara dan harus dipastikan dengan uji lab yang dilakukan sehingga dapat diketahui penyebab pasti kematian ikan. Sedangkan pada Pokdakan Putra Sading Sari ditemukan sampel ikan dengan kondisi pertumbuhan bentuk tubuh ikan yang abnormal yakni terjadi kebengkokan pada beberapa bagian tubuh ikan. Hal tersebut sudah barang tentu menjadi kerugian bagi pembudidaya karena pada ukuran benih bentuk tubuh ikan yang abnormal tersebut tidak terlihat dan baru terlihat pada saat pembesaran. Sehingga pada kondisi seperti ini tim dari BKIPM serta Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kota Denpasar memberikan penjelasan sementara bahwa pertumbuhan abnormal pada tubuh ikan tersebut dapat disebabkan oleh gen pada ikan, malnutrisi, atau mungkin terjadi penyebaran bakteri, virus, ataupun parasit yang menyebabkan terjadinya penyakit ikan tersebut.

Sehingga dalam kegiatan Pemantauan Hama dan Penyakit Ikan ini diharapkan dapat secara langsung mengetahui permasalahan pembudidaya terkait hama dan penyakit ikan yang sering terjadi pada ikan komoditas budidayanya. Seperti yang kita ketahui bahwa penyakit merupakan salah satu kendala serius yang harus dihadapi pada usaha budidaya ikan yang dapat menimbulkan kegagalan dan kerugian bagi masyarakat. Untuk mencegah terjadinya wabah dan introduksi penyakit baru yang dapat merusak potensi perikanan di Kota Denpasar, maka diperlukan suatu pencegahan dan penanggulangan penyakit ikan melalui kegiatan pemantauan, dan tingkat pengelolaan sumberdaya ikan. Sehingga diperlukan kerjasama antara Dinas Perikanan dan Kelautan, BKIPM serta Penyuluh Perikanan dalam membantu pembudidaya untuk mencegah dan menanggulangi kemungkinan penyakit yang terjadi pada saat budidaya sehingga kerugian bagi pembudiday dapat dicegah. (Pinky -Penyuluh Perikanan Bantu Kota Denpasar)