Menu

Pelatihan Inovasi Teknologi Budidaya Lele Sistem Bioflok

  • Kamis, 04 Mei 2017
  • 2886x Dilihat

Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Denpasar melakukan upaya pengembangan Iptek budidaya terkait dengan inovasi teknologi budidaya lele sistem bioflok. Teknologi sistem bioflok menjadi sangat popular saat ini, karena mampu mengenjot produktivitas lele dengan penggunaan lahan yang tidak terlalu luas, dan hemat sumber air. Sebagai gambaran, teknologi ini merupakan bentuk rekayasa lingkungan yang mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme, yang secara langsung dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan. Bioflok menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, dan saat ini produk lele sangat memasyarakat sebagai sumber gizi yang digemari.

Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan kemudian mengadakan Pelatihan sistem budidaya bioflok pada Kamis (4/5) di UPT Balai Benih Ikan Kota Denpasar dan Jumat (5/5) dilanjutkan dengan studi banding ke Kelompok Lele Mandiri Banyu Pinaruh Kec. Penebel Kabupaten Tabanan. Pelatihan ini  diikuti oleh kelompok pembudidaya lele Kota Denpasar.

Pelatihan budidaya lele sistem bioflok ini sangat diminati para pembudidaya lele di Kota Denpasar karena dengan sistem ini apabila dilaksanakan dengan tertib sesuai SOP teknologi lele bioflok terbukti sangat efisien. Sebagai contoh yang dipraktekkan pada saat pelatihan dengan rata-rata padat tebar 1.000 ekor/m3, dalam satu kolam bulat ukuran diameter 3 m, dapat ditebar benih lele sebanyak min. 3.000 ekor, dan mampu  menghasilkan  lele konsumsi mencapai > 300 kg per siklus (100-110 hari). Artinya jika dibandingkan dengan teknologi konvensional, budidaya sistem bioflok ini mampu menaikan produktivitas > 3 kali lipat. Hal tersebut sangat membantu para pembudidaya lele untuk lebih maju dan semakin produktifitas.

Dalam hal ini Kelompok Lele Mandiri Banyu Pinaruh dipilih sebagai tujuan studi banding dengan alasan kelompok tersebutsudah melaksanakan kegiatan budidaya lele dengan sistem Bioflok selama  2 tahun, dimana sarana prasarana merupakan bantuan Pusat melalui Balai budidaya Ikan Mandiangin. Dimana kelompok ini beranggotakan 15 orang dengan total kolam yang dimiliki kelompok sebanyak 100 buah kolam, sebagian dengan sistem budidaya bioflok dan sebagian dengan sistem boster.

Peserta study banding sangat antusias mendengarkan penjelasan ketua kelompok tentang tata cara budidaya sistem bioplok serta keuntungan budidaya dengan sistem ini. Diharapkan kegiatan seperti iniagar lebih sering dilaksanakan untuk menambah wawasan pembudidaya ikan yang ada di Kota Denpasar untuk lebih maju. (Widya)