Menu

SARASEHAN SAPI BALI PERTAMA KOTA DENPASAR

  • Jumat, 07 November 2008
  • 1537x Dilihat
SAPI BALI PLASMA NUTFA INDONESIA Kegiatan Kontes dan Pameran Sapi Bali 2008 hari ini 7 Nopember 2008 sudah melalui tahap penilaian oleh Tim Juri yang diketuai oleh Prof.Ir. I Gusti Lanang Oka,M.Agr.Sc.PhD. Acara penjurian berlangsung dengan tertib sekitar pukul 2.Wita. Kriteria penilaian adalah meliputi penilaian secara fisik dan seni. Acara kemudian dilanjutkan dengan Sarasehan yang di hadiri oleh para Asisten II , SKPD-SKPD,Unsur Koramil,Polsek , petani ternak serta unsur akademis yang diundang. Dalam diskusi panel ada beberapa hal yang ditekankan oleh keempat pembicara yakni untuk meningkatkan dan mempertahankan Sapi Bali sebagai Plasma Nutfa , maka sejak dini diperlukan perencanaan dan koordinasi yang baik dan berkesinambunagan antar Pemerintah maupun petani ternak. Materi Pertama disampaikan oleh Pihak dari UNHI, yang menjelasakan tentang ritual-ritual dalam Agama Hindhu karena kegiatan Kontes ini juga memperingati ritual Tumpek Kandang yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Uye 8 November 2008. Dinas Peternakan Propinsi yang diwakili oleh Ir. Sumantra menekankan bahwa untuk mempertahankan Plasma Nutfa Sapi Bali maka yang harus dilakukan adalah mempertahankan Pabrik Sapi, yakni diperbanyak atau dengan peningkatan produktivitas melalui beberapa cara yaitu; tidak menjual sapi betina tidak menjual betina produktif, program pengembanganbiakan yang baik ,menghidari pemotongan sapi betina produktif,menyediakan pakan yang memadai,melakukan perawatan budidaya yang baik dan tanggap terhadap penyakit ternak. Ditegaskan oleh Ir.Sumantra bahwa proses perkawinan yang benar sangat menentukan kualitas Sapi Bali dimana salah satu hal yang perlu ditekankan adalah jangan melakukan inbreeding yakni kawin satu ras satu keturunan atau satu keluarga. Inbreeding hanya akan menghasilkan penurunan kesuburan , pertumbuhan dan cacat. Demikian yang disampaikan oleh Ir.Sumantra. Aplikasi Teknologi maju untuk pengembangan sapi adalah sebuah pendekatan yang perlu dilakukan menuju peningkatan kualitas Sapi Bali. Langkah-langkah pengembangan Sapi didaerah Lahan Smepit ( seperti Kota Denpasar) dapat ditempu melalaui; 1). Penyediaan Pakan alternatif Pengganti Hijauan, 2) Teknologi Percepatan Pertumbuhan, 3) Integrasi Usaha Peternakan Sapi dengan Tanaman, dan Integrasi Usaha Peternakan Sapi dengan Usaha Perhotelan dan Restoran. Demikian yang disampaikan oleh Pemakalah dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP Denpasar) Bapak Suprio Guntoro. Sebagai Penyaji materi terakhir, Prof.Lanang menekankan mengapa Sapi Bali perlu dipertahankan keberadaanya sebagai plasma nutfa Indonesia, salah satunya adalah karena memiliki keunggulan sifat reproduksi yang sangat subur. Disampaikan pula bahwa populasi Sapi Bali sudah ada dibebrapa negara sehingga kita perlu bekerja keras untuk mempertahankan Sapi Bali sebagai Plasma Nutfa Indonesia. Dalam diskusi panel saat sarasehan yang bertempat di wantilan Desa Pakraman Poh Gading Prof. Lanang juga memberikan apresiasinya kepada para petani ternak bahwa semua ternak yang di mengikuti kontes tidak didapati ada yang inbreeding ( hasil perkawinan dekat antar keluarga). Acara Sarasehan disambut baik oleh para undangan dan peserta tidak ketinggalan Bapak Assiten II dan Kabid Ekonomi Bappeda Kota Denpasar yang memberikan apresiasi pada acara tersebut dalam sesi tanya jawab, mengingat acara ini merupakan Sarasehaan pertama di Kota Denpasar. Pada kesempatan tersebut Bapak Assiten meminta supaya acara ini tidak hanya sebatas sarasehan tapi perlu ditindak lanjuti sehingga benar-benar bermanfaat. Hal yang sama juga disampaikan oleh Kabid Ekonomi Bappeda Kota Denpasar dan meminta penjelasan Propinsi sejauh mana langkah-langkah yang sudah ditempu untuk mendapatkan pengakuan atas Sapi Bali sebagai Plasma Nutfa Indonesia (nny)